Sumut Siap #2019 Ganti Presiden

    821
    0
    BERBAGI

    Hariini.id. Relawan #2019GantiPresiden Sumatera Utara melakukan deklarasi akbar di depan Masjid Raya Al-Ma’shun Kota Medan Ahad pagi (22/7/2018).

    Ketua Panitia Deklarasi,  Bobby dalam sambutannya mengungkapkan bahwa gerakan ini murni perjuangan dari hati oleh para relawan dan sah secara konstitusional .”Hidup ini perjuangan. Sebagaimana hidup, perjuangan ini terus berjalan. Kita di sini tidak dibayar, gerakan ini berasal dari hati untuk mengganti presiden pada 2019 secara konstitusional,” ujarnya.

    Deklarasi ini dihadiri oleh Ustadzah Neno Warisman dan  Sang Alang dari Jakarta serta para tokoh masyarakat Sumatera Utara seperti Anggota DPR – RI, Romo Raden Syafii, Ketua GIP-NKRI, Masri Sitanggang, Anggota DPRD Kota Medan Ahmad Arif, Ihwan Ritonga dan Salman Alfarisi,  Buya Rafdinal dan para tokoh lain.

    Dalam orasinya, Rafdinal menegaskan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang kaya tapi hanya sebagian kecil penguasa asing yang menguasainya. Ganti presiden ini keinginan semua elemen dari rakyat termasuk eksponen 98. “Saya juga ksponen 98. Aktivis 98 juga ingin ganti Presiden,” ujarnya.

    Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Medan Ihwan Ritonga mengungkapkan bahwa gerakan ini adalah sah dan wajar mengingatkan karena pemerintah saat ini suka memenjarakan para guru dan rakyat.

    Salman Alfarisi Anggota DPRD yang juga Ketua PKS Kota Medan optimis setelah berhasil mengganti Gubernur DKI Jakarta dan Sumatera Utara, maka kebahagiaan akan lengkap  dengan ganti Presiden pada 2019.

    Selain itu, Ketua GNPF Sumut, Heriansyah mengungkapkan bahwa perubahan ada tiga jenis. Pertama, evolusi yakni perubahan dengan cara membutuhan waktu yang lama. Kedua, Perubahan dengan cara revolusi yakni perubahan dengan waktu cepat akan tetapi membutuhkan biaya dan pengorbanan yang besar. Sehingga yang dapat ditempuh adalag cara yang ketiga yakni dengan cara  konstitusional.

    “April 2019 adalah momentum perubahan itu. Apapun makanan dan minumannya, tetap ganti presidennya,” ujarnya.

    Sementara itu, Ketua Gerakan Islam Pengawal NKRI, Masri Sitanggang mengibaratkan bahwa 2019 bak stasiun untuk mengganti supir yang ugal-ugalan dalam menyetir bus “NKRI”. Sebenarnya ada Etika kalau orang tersebut tau diri. Jadi imam sholat pun, jika sholatnya asal-asalan maka sholat berikutnya tidak usah dipilih lagi jadi imam, ujarnya.

     

    LEAVE A REPLY