Beranda Opini Didukung Masyarakat, mendagri rencanakan penghematan anggaran pilkada

Didukung Masyarakat, mendagri rencanakan penghematan anggaran pilkada

620
0
BERBAGI

Jakarta –┬áKetua Pembina Gerakan Bunuh Politik Uang Muhri Fauzi Hafiz mengatakan “Masyarakat butuh terobosan, kalau segelintir orang mengatakan Transaksi uang suap hanya akan berpindah dari masyarakat kepada elite partai di DPRD, justru memudahkan masyarakat dan aparat penegak hukum mengawasi transaksi suap karena cakupannya yang sedikit”.

“Saat ini yang terjadi justru perusakan terhadap pendidikan politik masyarakat dimana setiap calon kepala daerah dan calon legislatif yang ditanya pertama adalah kemampuan finansialnya bukan kemampuannya untuk membuka peluang bagi masyarakat melalui lembaga pemerintahan”, kata muhri.

Muhri juga membenarkan langkah Bapak Mendagri melakukan kajian analisis akademik melibatkan balitbang dan bps untuk mendapatkan Index Democracy Maturty per daerah.

“Namun kajian ini kan tetap harus di analisis lagi, yang penting saat ini pemerintah pusat tidak menutup mata terhadap Politik Uang yang terjadi di daerah” tutup Muhri.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian meminta publik tak menutup mata bahwa biaya politik yang dikeluarkan untuk maju sebagai kepala daerah melalui pemilihan kepala daerah (Pilkada) langsung, sangat tinggi. Mulai dari APBN dan APBD yang dikeluarkan pemerintah, hingga biaya politik yang dikeluarkan calon demi mendapat kendaraan politik dari partai.

Berkaca pada ongkos politik yang tinggi ini, ujar Tito, dirinya mengusulkan evaluasi pelaksanaan Pilkada langsung. “Saya sudah mulai dengan meminta Balitbang membuat index democracy maturity per daerah dan meminta BPS meminta indikator-indatornya,” ujar mantan Kapolri ini.

Ia mengatakan, nanti setelah kajian selesai, di daerah dengan IDM Tinggi, bisa dilakukan Pilkada langsung. “Yang IDM rendah, kita lakukan mekanisme lain misalnya dipilih DPRD,” ujar Tito.

“Sekali lagi, saya tidak mengatakan kembali ke DPRD, tapi evaluasi dampak positif dan negatif Pilkada langsung. Dan jawabannya, evaluasi dengan kajian akademik,” kata Tito.

 

LEAVE A REPLY